Laut — Smart Fisheries

Data kelautan & operasi armada

Laporan metodologi · Agustus 2026

Dari observasi laut menjadi rekomendasi zona tangkap

Ringkasan sumber data, metode penilaian, hasil kalibrasi, dan batas penggunaan rekomendasi untuk mendukung perencanaan operasi armada.

sel heksagonal
sumber data aktif
ambang potensi · akses
observasi SST terakhir
01

Sumber Data

Model menggunakan tiga sumber data kelautan utama. Status koneksi dan waktu observasi ditampilkan untuk keperluan audit.

Suhu Permukaan LautMEMUAT
NASA JPL MUR · jplMURSST41
NOAA CoastWatch ERDDAP · resolusi 0,01° · harian
Klorofil-aMEMUAT
NOAA S-NPP VIIRS · chla weekly
PIFSC OceanWatch ERDDAP · mingguan
BatimetriMEMUAT
ETOPO1 · etopo180
NOAA NCEI via CoastWatch · statis
Pelengkap non-satelit: gelombang, arus & angin dari Open-Meteo Marine/Forecast API (per jam), dan posisi 12 pelabuhan perikanan pantura sebagai referensi jarak.
02

Alur Pengolahan

Lima tahap pengolahan digunakan untuk menghasilkan peringkat zona operasi.

1
Akuisisi data
SST, klorofil-a, dan batimetri diperoleh melalui layanan ERDDAP NOAA dan NASA.
2
Standardisasi grid
Seluruh dataset dipetakan ke grid heksagonal yang sama agar dapat dibandingkan.
3
Analisis front termal
Perubahan suhu antarsel dihitung untuk mengenali batas massa air.
4
Skor dua sumbu
Potensi (4 faktor berbobot) dan keterjangkauan (jarak + gelombang) dihitung per sel.
5
Penetapan prioritas
Median harian digunakan sebagai ambang untuk mengelompokkan zona operasi.
03

Faktor & Bobot Potensi

Skor potensi dihitung dari tingkat kesesuaian setiap faktor dan bobot yang telah ditetapkan.

Front Termal (∇SST)
min(1, |∇SST| ÷ 0,25)
32%

Perbedaan suhu antarmassa air berkaitan dengan konsentrasi plankton dan keberadaan ikan pelagis.

Dihitung dari gradien grid SST satelit NASA JPL MURINTERNAL
Klorofil-a
optimal 0,5–2,5 mg/m³
28%

Klorofil-a digunakan sebagai indikator produktivitas primer. Rentang acuan disesuaikan dengan studi pelagis kecil di Laut Jawa.

Satelit NOAA S-NPP VIIRS · PIFSC OceanWatch ERDDAPINTERNAL
Suhu Permukaan Laut
optimal 26–29 °C
22%

Rentang suhu mengacu pada habitat pelagis kecil di Laut Jawa. Front termal menjadi pembeda ketika suhu antarzona relatif seragam.

Satelit NASA JPL MUR · NOAA CoastWatch ERDDAPINTERNAL
Kedalaman
optimal 30–55 m
18%

Rentang kedalaman disesuaikan dengan jangkauan operasi alat tangkap pelagis kecil di perairan paparan.

Batimetri ETOPO1 · NOAA NCEI (CoastWatch ERDDAP)INTERNAL
04

Sumbu Kedua: Keterjangkauan

Potensi biologis dan kelayakan operasi dinilai secara terpisah, kemudian dipetakan ke dalam empat kuadran prioritas.

Jarak Pelabuhan60%

Nilai maksimum berlaku hingga 25 km dan turun bertahap sampai 130 km. Jarak dihitung ke pelabuhan perikanan pantura terdekat.

Perhitungan internal · 12 pelabuhan referensiINTERNAL
Keamanan Laut40%

Kondisi terbaik ditetapkan pada gelombang hingga 0,75 m. Nilai minimum berlaku mulai 2,5 m.

Open-Meteo Marine API (per jam)INTERNAL
Indeks Prioritas = Potensi × 0,70 + Keterjangkauan × 0,30

Bobot potensi lebih besar untuk menjaga fokus pada kualitas zona. Faktor keterjangkauan digunakan untuk menilai kelayakan operasinya. Ambang kuadran mengikuti median data pada hari pengamatan.

Matriks prioritas operasiambang ·
Prioritas UtamaPotensi tinggi dan mudah dijangkau — target melaut hari ini. (0 sel)
EkspedisiPotensi tinggi tetapi jauh atau berombak — hanya untuk kapal besar dengan bekal cukup. (0 sel)
Cadangan DekatMudah dijangkau namun potensinya sedang — pilihan aman saat cuaca buruk. (0 sel)
Tidak DisarankanPotensi rendah dan sulit dijangkau — biaya melaut sulit tertutup. (0 sel)
05

Contoh Perhitungan

Memuat data…

06

Kalibrasi

Rentang kesesuaian mengacu pada literatur dan diuji terhadap distribusi data pantura. Kalibrasi dilakukan agar hasil tetap memiliki daya pembeda antarzona.

Jumlah sel per rentang skor potensi (data berjalan)

07

Dasar Ilmiah dan Referensi

Literatur digunakan untuk menentukan variabel dan rentang kesesuaian. Bobot model masih memerlukan validasi menggunakan data tangkapan aktual.

VariabelRentang modelTemuan literaturStatus
Front termalmin(1, g ÷ 0,25)CPUE pelagis besar meningkat signifikan di sekitar front termal (Podestá dkk. 1993). Pendekatan front–mesotrofik untuk ZPPI (JITKT IPB).Selaras
Klorofil-a0,5–2,5 mg/m³Kelas ZPPI pelagis kecil Laut Jawa 0,5–2,5 mg/m³ (Geo-Image UNNES). Perairan jernih Spermonde: 0,35 ± 0,05 (Nurdin dkk. 2017) — spesifik wilayah.Selaras (Laut Jawa)
SST26–29 °CRentang ZPPI Laut Jawa 26–29 °C (Geo-Image; IJOCE Undip). Kontribusi SST dominan 93,7% pada MaxEnt tenggiri (Habibi dkk. 2026, AUC 0,73).Selaras (Laut Jawa)
Kombinasi SST × chljumlah berbobotIPFZ India tervalidasi lapangan: ~70% sukses, tangkapan +80% (Solanki dkk. 2003; validasi 2007). Hotspot multi-sensor (Zainuddin dkk. 2006).Pendekatan dipakai
Kedalaman30–55 mJangkauan operasional alat tangkap pelagis kecil di paparan — bukan temuan jurnal PFZ.Aturan operasional
Sumbu keterjangkauanjarak 60% · gelombang 40%Desain produk untuk kelayakan trip harian; PFZ tenggiri yang terkonsentrasi di zona transisi pesisir (Habibi dkk. 2026) konsisten dengan arah ini.Desain operasional
08

Batasan yang Perlu Diketahui

Batasan berikut perlu dipertimbangkan sebelum skor dipakai untuk keputusan operasional.

  • Skor menunjukkan kesesuaian habitat dan belum dapat dibaca sebagai peluang keberhasilan tangkapan.
  • Bobot faktor masih berdasarkan penilaian ahli dan belum dilatih menggunakan data tangkapan.
  • Klorofil-a mingguan bisa tertinggal beberapa minggu dari tanggal berjalan.
  • Belum memperhitungkan kolom air dalam maupun perbedaan antar spesies target.
  • Posisi kapal dan hasil tangkapan pada dashboard masih berupa data simulasi.
  • Perhitungan jarak belum memasukkan rute pelayaran, arus, dan kapasitas bahan bakar kapal.