Dari observasi laut menjadi rekomendasi zona tangkap
Ringkasan sumber data, metode penilaian, hasil kalibrasi, dan batas penggunaan rekomendasi untuk mendukung perencanaan operasi armada.
Sumber Data
Model menggunakan tiga sumber data kelautan utama. Status koneksi dan waktu observasi ditampilkan untuk keperluan audit.
Alur Pengolahan
Lima tahap pengolahan digunakan untuk menghasilkan peringkat zona operasi.
Faktor & Bobot Potensi
Skor potensi dihitung dari tingkat kesesuaian setiap faktor dan bobot yang telah ditetapkan.
min(1, |∇SST| ÷ 0,25)Perbedaan suhu antarmassa air berkaitan dengan konsentrasi plankton dan keberadaan ikan pelagis.
optimal 0,5–2,5 mg/m³Klorofil-a digunakan sebagai indikator produktivitas primer. Rentang acuan disesuaikan dengan studi pelagis kecil di Laut Jawa.
optimal 26–29 °CRentang suhu mengacu pada habitat pelagis kecil di Laut Jawa. Front termal menjadi pembeda ketika suhu antarzona relatif seragam.
optimal 30–55 mRentang kedalaman disesuaikan dengan jangkauan operasi alat tangkap pelagis kecil di perairan paparan.
Sumbu Kedua: Keterjangkauan
Potensi biologis dan kelayakan operasi dinilai secara terpisah, kemudian dipetakan ke dalam empat kuadran prioritas.
Nilai maksimum berlaku hingga 25 km dan turun bertahap sampai 130 km. Jarak dihitung ke pelabuhan perikanan pantura terdekat.
Kondisi terbaik ditetapkan pada gelombang hingga 0,75 m. Nilai minimum berlaku mulai 2,5 m.
Bobot potensi lebih besar untuk menjaga fokus pada kualitas zona. Faktor keterjangkauan digunakan untuk menilai kelayakan operasinya. Ambang kuadran mengikuti median data pada hari pengamatan.
Contoh Perhitungan
Memuat data…
Kalibrasi
Rentang kesesuaian mengacu pada literatur dan diuji terhadap distribusi data pantura. Kalibrasi dilakukan agar hasil tetap memiliki daya pembeda antarzona.
Jumlah sel per rentang skor potensi (data berjalan)
Dasar Ilmiah dan Referensi
Literatur digunakan untuk menentukan variabel dan rentang kesesuaian. Bobot model masih memerlukan validasi menggunakan data tangkapan aktual.
| Variabel | Rentang model | Temuan literatur | Status |
|---|---|---|---|
| Front termal | min(1, g ÷ 0,25) | CPUE pelagis besar meningkat signifikan di sekitar front termal (Podestá dkk. 1993). Pendekatan front–mesotrofik untuk ZPPI (JITKT IPB). | Selaras |
| Klorofil-a | 0,5–2,5 mg/m³ | Kelas ZPPI pelagis kecil Laut Jawa 0,5–2,5 mg/m³ (Geo-Image UNNES). Perairan jernih Spermonde: 0,35 ± 0,05 (Nurdin dkk. 2017) — spesifik wilayah. | Selaras (Laut Jawa) |
| SST | 26–29 °C | Rentang ZPPI Laut Jawa 26–29 °C (Geo-Image; IJOCE Undip). Kontribusi SST dominan 93,7% pada MaxEnt tenggiri (Habibi dkk. 2026, AUC 0,73). | Selaras (Laut Jawa) |
| Kombinasi SST × chl | jumlah berbobot | IPFZ India tervalidasi lapangan: ~70% sukses, tangkapan +80% (Solanki dkk. 2003; validasi 2007). Hotspot multi-sensor (Zainuddin dkk. 2006). | Pendekatan dipakai |
| Kedalaman | 30–55 m | Jangkauan operasional alat tangkap pelagis kecil di paparan — bukan temuan jurnal PFZ. | Aturan operasional |
| Sumbu keterjangkauan | jarak 60% · gelombang 40% | Desain produk untuk kelayakan trip harian; PFZ tenggiri yang terkonsentrasi di zona transisi pesisir (Habibi dkk. 2026) konsisten dengan arah ini. | Desain operasional |
Batasan yang Perlu Diketahui
Batasan berikut perlu dipertimbangkan sebelum skor dipakai untuk keputusan operasional.
- Skor menunjukkan kesesuaian habitat dan belum dapat dibaca sebagai peluang keberhasilan tangkapan.
- Bobot faktor masih berdasarkan penilaian ahli dan belum dilatih menggunakan data tangkapan.
- Klorofil-a mingguan bisa tertinggal beberapa minggu dari tanggal berjalan.
- Belum memperhitungkan kolom air dalam maupun perbedaan antar spesies target.
- Posisi kapal dan hasil tangkapan pada dashboard masih berupa data simulasi.
- Perhitungan jarak belum memasukkan rute pelayaran, arus, dan kapasitas bahan bakar kapal.